Analisis PERHAPI: Infrastruktur Tambang Berfungsi Sebagai Penahan Banjir Garoga, Dampak Anomali Curah Hujan Ekstrem

Pada November 2025, wilayah Sumatera terkena dampak bencana banjir dan longsor. Hal ini utamanya disebabkan oleh anomali cuaca ekstrem yang melebihi kapasitas mitigasi infrastruktur nasional biasa. Namun, dalam penelitian yang dilakukan PERHAPI, mereka menemukan bahwa infrastruktur tambang berperan penting dalam mencegah banjir di Garoga.
Akibat Cuaca Ekstrem, Bukan Aktivitas Industri
Dalam sebuah diskusi kelompok yang diselenggarakan oleh PERHAPI, para pakar independen menyimpulkan berdasarkan data hidrologi dan geospasial, bahwa kontribusi industri terhadap banjir sangat kecil. Mereka juga menemukan bahwa infrastruktur teknis di area operasional tambang justru berfungsi sebagai penahan air yang membantu mengurangi aliran air sebelum mengalir ke wilayah hilir.
Fokus Diskusi: Dampak Operasi Penambangan
PERHAPI mengadakan diskusi grup dengan fokus pada dampak operasi penambangan terhadap bencana lingkungan. Diskusi ini dihadiri oleh ahli pertambangan dan tim dari Center for Analysis and Applying Geospatial Information (CENAGO) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Kajian Forensik Kebencanaan
Dalam forum tersebut, hasil kajian forensik kebencanaan berbasis geospasial dipaparkan. Sudirman Widhy Hartono, Ketua Umum PERHAPI, menjelaskan bahwa organisasi ini berinisiatif memberikan rekomendasi berbasis validasi data untuk menegaskan pentingnya kebijakan berdasarkan kajian ilmiah dalam mengelola risiko bencana dan industri.
Kebijakan Berdasarkan Fakta Ilmiah
Setiap keputusan yang berhubungan dengan operasi pertambangan harus berdasarkan kajian yang mendalam. Ini adalah pernyataan dari Sudirman Widhy Hartono, yang merujuk pada kajian independen dari CENAGO ITB dan presentasi para pakar untuk menjelaskan aspek teknis pertambangan yang benar. Sudirman juga menekankan pentingnya setiap kebijakan pemerintah didasarkan pada fakta ilmiah.
Rekomendasi untuk Pemerintah
PERHAPI berencana untuk merangkum semua rekomendasi dari diskusi grup ini, termasuk hasil kajian CENAGO, dan menyampaikannya kepada pemerintah sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut. Menurut mereka, kepastian keputusan mengenai operasional industri di wilayah ini sangat penting untuk pengelolaan dampak sosial dan ekonomi secara terukur.
Infrastruktur Penahan Banjir di Tambang
Menurut Dewan Pakar PERHAPI, Irwandy Arif, meskipun kegiatan pertambangan memiliki risiko lingkungan, setiap perusahaan harus melakukan mitigasi dengan menerapkan praktek pertambangan yang baik secara konsisten. Salah satu contoh adalah infrastruktur teknis seperti sistem drainase dan settling pond yang berfungsi sebagai penahan air vital, membantu menahan limpasan air sebelum dialirkan secara terkontrol.
Posisi Tambang dan Wilayah Banjir
Irwandy juga menjelaskan bahwa secara hidrologi dan morfologi, lokasi Tambang Emas Martabe terpisah dari wilayah yang terdampak banjir bandang. Berdasarkan sistem aliran air dan kondisi lahan, lokasi tambang ini tidak berada dalam satu sistem dengan area banjir bandang di DAS Garoga.
Kajian Ilmiah CENAGO ITB
Heri Andreas, Koordinator Tim Riset CENAGO ITB, menyampaikan hasil kajian mereka terkait bencana banjir di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh. Bencana banjir dan longsor pada akhir November 2025 di beberapa wilayah Sumatera dipicu oleh cuaca ekstrem yang berkaitan dengan fenomena Siklon Tropis Senyar, dengan anomali presipitasi yang jarang terjadi.
Curah Hujan Ekstrem
Curah hujan selama periode ini mencapai kategori ekstrem hingga sangat ekstrem, dengan probabilitas skala kejadian berada pada kategori R700 hingga R1000. Menariknya, regulasi mitigasi pemerintah hanya mewajibkan standar hingga R50.
Peran Tambang dalam Banjir
Dalam konteks DAS Garoga, CENAGO menilai kontribusi perubahan tutupan lahan korporasi terhadap banjir relatif kecil. Data hidrologi menunjukkan kontribusi operasional tambang terhadap banjir sangat kecil, hanya 0,32%, sehingga penerapan Strict Liability (tanggung jawab mutlak) perlu ditinjau secara proporsional berdasarkan temuan ilmiah.
Setiap Kebijakan Harus Berdasarkan Kajian Ilmiah
Sudirman Widhy Hartono menegaskan pentingnya memastikan setiap keputusan kebijakan didasarkan pada kajian ilmiah yang komprehensif dan objektif. Keputusan yang diambil harus adil, transparan, dan bebas dari tekanan opini yang tidak berbasis data. Ia berharap hasil konsensus para pakar ini menjadi dasar utama bagi Pemerintah dalam mengambil keputusan yang bijaksana untuk memulihkan operasional industri strategis nasional.
Pentingnya Iklim Investasi yang Kondusif
Rachmat Makkasau, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Indonesia (API-IMA), juga menekankan pentingnya menjaga iklim investasi yang kondusif di sektor pertambangan. Menurutnya, pemerintah tentu akan melakukan evaluasi mendalam terkait izin usaha pertambangan yang tengah menjadi perhatian publik. Ia percaya bahwa pemerintah akan melakukan evaluasi lebih detail terkait izin operasional yang sedang dicabut.
Perusahaan-perusahaan yang beroperasi dengan baik dan bertanggung jawab, mengedepankan aspek Environmental, Social and Governance (ESG), serta mematuhi peraturan yang berlaku, termasuk aspek pengelolaan lingkungan hidup, tentu tetap dapat beroperasi. Hal ini penting untuk memastikan bahwa iklim investasi di sektor pertambangan tetap kondusif.
