Banjir Melanda Nagoya Jepang, Hujan 104,5 Mm dalam Satu Jam Pecahkan Rekor Sejarah

Pada tanggal 8 September 2026, Jepang tengah menghadapi situasi darurat akibat hujan ekstrem yang menyebabkan banjir besar di wilayah tengah negara tersebut, terutama di Prefektur Aichi dan Kota Nagoya. Curah hujan yang tercatat dalam waktu satu jam mencapai 104,5 milimeter, yang menjadi rekor baru dalam sejarah pengamatan cuaca di Nagoya. Hujan deras ini tidak hanya mengakibatkan genangan air yang meluas, tetapi juga meningkatkan risiko bencana di kawasan tersebut.
Rekor Curah Hujan di Nagoya
Data dari Japan Meteorological Agency (JMA) menunjukkan bahwa hujan dengan intensitas 104,5 milimeter terjadi hingga pukul 16.53 waktu setempat. Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada 11 September 2000 dengan curah hujan 97 milimeter. Pengamatan cuaca di Nagoya sendiri telah dilakukan sejak tahun 1890, sehingga pencapaian ini menandai sebuah titik penting dalam sejarah meteorologi kota tersebut.
Secara keseluruhan, total curah hujan yang mengguyur Nagoya pada hari itu mencapai 219,5 milimeter, menjadikannya sebagai curah hujan harian tertinggi ketiga yang tercatat untuk bulan September. Banjir yang melanda tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga menimbulkan ancaman serius bagi keselamatan warga.
Dampak Hujan Deras di Wilayah Sekitar
Selain Nagoya, Prefektur Gifu juga mengalami hujan deras. Di Kota Tajimi, JMA melaporkan curah hujan mencapai 93 milimeter dalam satu jam hingga pukul 16.40, yang juga berhasil memecahkan rekor sebelumnya sebesar 83,5 milimeter yang terjadi pada tahun 2010. Peringatan akan potensi hujan lebat telah disampaikan oleh Kantor Meteorologi Nagoya, yang mengindikasikan kemungkinan terbentuknya deretan awan hujan yang dapat memperburuk situasi.
Peringatan dari JMA
JMA telah memberikan peringatan kepada masyarakat mengenai risiko bencana akibat hujan deras yang dapat terjadi. Mereka menekankan pentingnya untuk menjauhi area berbahaya seperti sungai yang meluap, lokasi tergenang, dan saluran air. Dalam peringatan resminya, JMA mengingatkan agar warga tetap memantau informasi cuaca serta peta risiko bencana, serta mengikuti instruksi evakuasi dari pemerintah setempat.
Penyebab Cuaca Ekstrem
Cuaca ekstrem ini disebabkan oleh front yang hampir tidak bergerak yang membentang dari daerah barat hingga timur Jepang. Ditambah dengan aliran udara hangat dan lembap dari sistem tekanan rendah akibat bekas Topan Nomor 24, ketidakstabilan atmosfer di wilayah Tokai meningkat secara signifikan. Hal ini menjadi faktor utama yang menyebabkan hujan deras dan banjir di daerah Nagoya dan sekitarnya.
Peringatan Banjir Tingkat Tertinggi
Pada pukul 18.20 waktu setempat, Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang (MLIT) bersama JMA menerbitkan peringatan banjir Level 5. Ini merupakan tingkat tertinggi dalam sistem peringatan banjir yang dikeluarkan untuk Sungai Shonai yang melintasi Aichi dan Gifu. Pada saat itu, muka air Sungai Yada di titik pengamatan Seko, Nagoya, telah mencapai level yang menunjukkan potensi terjadinya banjir.
Pemerintah setempat memberikan peringatan bahwa banjir mungkin sudah terjadi dan daerah Nagoya berisiko mengalami genangan air. Peringatan ini menegaskan bahwa masyarakat harus segera memastikan keselamatan diri mereka dan tidak menunggu jika berada di daerah berbahaya.
Kerugian dan Dampak Banjir di Nagoya
Data terbaru dari Pemerintah Prefektur Aichi menunjukkan dampak serius dari hujan yang melanda. Hingga 10 September 2026, sebanyak 41 orang mengalami luka ringan akibat bencana ini. Dari jumlah tersebut, 38 korban berada di Nagoya, sementara sisanya tersebar di Kitanagoya dan Kanie. Selain itu, empat rumah dilaporkan mengalami kerusakan sebagian akibat banjir.
- Jumlah rumah terendam di atas lantai: 106
- Rumah terdampak di Nagoya: 70
- Rumah terdampak di Seto: 14
- Rumah terdampak di Kasugai: 10
- Rumah lainnya di sejumlah kota dan wilayah Aichi
Selain itu, 139 rumah mengalami genangan di bawah lantai, dengan 72 di antaranya berada di Nagoya dan 23 di Seto. Totalnya, sedikitnya 245 rumah tercatat mengalami genangan baik di atas maupun di bawah lantai, berdasarkan pendataan sementara oleh pemerintah.
Tindakan Pemerintah dan Penanganan Bencana
Ancaman yang muncul akibat banjir menyebabkan pemerintah menerapkan Disaster Relief Act atau Undang-Undang Bantuan Bencana di seluruh wilayah Nagoya sejak tanggal 8 September 2026. Kebijakan ini diambil karena banyak warga yang terancam keselamatannya dan membutuhkan bantuan berkelanjutan. Melalui tindakan ini, pemerintah berkomitmen untuk menyediakan tempat pengungsian dan makanan bagi mereka yang terdampak.
Pemerintah kota juga mengambil langkah untuk menutup seluruh sekolah dan taman kanak-kanak milik pemerintah pada Rabu, setelah terdeteksi adanya genangan di jalan dan peningkatan muka air sungai di berbagai kawasan. Meskipun kondisi di Aichi mulai berangsur pulih pada Kamis, pemerintah tetap menjaga kewaspadaan dan terus memantau situasi.
Kondisi Pasca Banjir dan Persiapan Asian Games
Hingga 10 September, laporan dari pemerintah mencatat tidak ada lagi instruksi evakuasi yang berlaku, dan semua tempat pengungsian telah ditutup. Layanan kereta yang sempat dihentikan akibat bencana telah kembali normal, dan pasokan listrik untuk pelanggan yang sebelumnya mengalami pemadaman juga telah dipulihkan. Namun, pusat penanggulangan bencana Prefektur Aichi tetap beroperasi untuk menangani dampak pascabanjir.
Pemerintah Nagoya kini memfokuskan upaya untuk menangani kerusakan yang ditimbulkan. Mereka menyediakan mekanisme khusus untuk mengumpulkan barang dan sampah rumah tangga yang rusak akibat hujan. Situasi ini terjadi hanya dua pekan sebelum Asian Games Aichi-Nagoya 2026 yang dijadwalkan dimulai pada 19 September 2026.
Persiapan Menjelang Asian Games
Menurut laporan Associated Press, sekitar 400 atlet dan staf yang telah tiba lebih awal sempat dipindahkan ke lokasi yang lebih aman selama hujan deras. Selain itu, sekitar 3.500 warga juga mencari perlindungan di tempat-tempat pengungsian yang disediakan. Wali Kota Nagoya, Ichiro Hirosawa, menegaskan bahwa tidak ada kerusakan signifikan pada lokasi-lokasi pertandingan, dan persiapan untuk penyelenggaraan Asian Games tetap berjalan sesuai rencana.
Dengan Asian Games yang akan berlangsung mulai 19 September hingga 4 Oktober 2026, pemerintah dan panitia penyelenggara terus memastikan bahwa semua persiapan dapat dilakukan dengan baik. JMA dan pemerintah daerah telah meminta warga untuk tetap memantau informasi resmi, mengingat tanah yang telah jenuh air dapat meningkatkan risiko longsor dan kenaikan muka air sungai yang mungkin terjadi setelah hujan utama mereda.
Pendataan Kerusakan yang Masih Berlangsung
Hingga pembaruan terbaru pada Kamis sore, dampak dari bencana di Aichi masih dalam proses pendataan. Pemerintah prefektur mengindikasikan bahwa angka kerusakan yang dilaporkan dapat berubah seiring dengan ditemukannya laporan tambahan. Dengan demikian, masyarakat diharapkan tetap waspada dan mengikuti perkembangan informasi yang disampaikan oleh pihak berwenang.


