depo 10k slot depo 10k

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

Bukit Nusa IndahCiputatDAERAHDinas Pendidikan TangselPembangunan SekolahPemkot TangselSeruaSMP Negeri 25SMPN 25 TangselTangerang RayaTangerang Selatan

Pemkot Tangsel Rencanakan Pembangunan SMPN 25, Apakah Memadai untuk Warga?

Pembangunan SMP Negeri 25 di Tangerang Selatan, yang direncanakan berlokasi di area bekas Sekolah Taruna Bangsa, Jalan Mahoni/Jalan Kayumanis, Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, menuai kontroversi di kalangan masyarakat sekitar. Sejumlah warga di RW 016 Bukit Nusa Indah telah menyuarakan penolakan terhadap proyek ini, menyoroti berbagai isu yang dianggap mengganggu kualitas hidup mereka. Dalam menghadapi rencana ini, penting untuk mempertimbangkan pandangan warga sekaligus kebutuhan pendidikan di wilayah tersebut.

Penolakan Warga Terhadap Rencana Pembangunan

Penolakan yang disampaikan warga berlangsung dalam forum sosialisasi dan jajak pendapat yang diadakan pada Sabtu, 5 September 2026. Salah satu masalah utama yang diangkat adalah kondisi akses jalan menuju lokasi yang dinilai sangat sempit, hanya sekitar 4 meter. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan kemacetan dan keselamatan di sekitar area tersebut.

Warga dari RT 03 dan RT 04, yang berada di dekat lokasi pembangunan, menjadi suara utama dalam penolakan ini. Aspirasi serupa juga muncul dari warga di RT 01, RT 02, dan RT 05, yang terpengaruh oleh jalur akses menuju Jalan Nusa Indah. Keberatan ini mengindikasikan adanya kesepakatan di antara warga bahwa pembangunan harus mempertimbangkan dampak terhadap lingkungan setempat.

Hasil Jajak Pendapat dan Aspirasi Warga

Ketua RW 016, Hendi Wahyono, mengungkapkan bahwa jajak pendapat ini bertujuan untuk menampung semua aspirasi dan keberatan warga terkait rencana pembangunan SMPN 25. Dalam forum tersebut, berbagai isu diangkat, termasuk potensi peningkatan volume kendaraan, masalah parkir, kebisingan, kebersihan, serta aspek keamanan lingkungan yang mungkin terganggu akibat adanya sekolah baru.

Pengalaman sebelumnya ketika lokasi tersebut digunakan sebagai sekolah sementara untuk siswa SMPN 23 dan SMPN 24 juga menjadi pertimbangan penting bagi warga. Mereka mencatat bahwa situasi lalu lintas dan kenyamanan lingkungan saat itu sudah cukup menantang, sehingga hal ini semakin memperkuat alasan penolakan terhadap rencana pembangunan saat ini.

Kebutuhan Pendidikan di Tangerang Selatan

Di sisi lain, Pemerintah Kota Tangerang Selatan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan pentingnya penambahan sekolah negeri di kawasan ini. Dalam sosialisasi yang dilakukan, mereka menyampaikan bahwa jumlah lulusan dari sekolah dasar mencapai sekitar 24.000 siswa, sementara kapasitas penerimaan untuk sekolah menengah pertama negeri hanya sekitar 8.000 siswa.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga mencatat bahwa hingga tahun 2029, diperlukan sekitar 10 sekolah baru untuk memenuhi kebutuhan daya tampung siswa yang terus meningkat. Saat ini, Kecamatan Ciputat hanya memiliki tiga SMP negeri, sehingga kebutuhan akan tambahan sekolah menjadi sangat mendesak.

Aspek Perencanaan dan Tata Ruang

Menurut Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, lokasi yang direncanakan untuk SMPN 25 sudah sesuai dengan peruntukan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Luas lahan yang tersedia mencapai 2.559 meter persegi dengan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) sebesar 60 persen, Koefisien Lantai Bangunan (KLB) 4,8, dan Koefisien Daya Tampung Hijau (KDH) 15 persen.

Sementara itu, Dinas Perhubungan menyatakan bahwa kajian mengenai lalu lintas masih dalam tahap proses. Mereka juga telah menerima beberapa usulan terkait rekayasa lalu lintas yang diperlukan untuk mengatasi potensi masalah yang mungkin muncul akibat peningkatan aktivitas di sekitar lokasi sekolah.

Dialog Antara Warga dan Pemerintah

Related Articles

Back to top button