Gelar ARTSUBS, Surabaya Menjadi Pusat Seni Rupa Kontemporer Nasional yang Baru

Pameran seni rupa kontemporer ARTSUBS kembali hadir dan kali ini memasuki edisi ketiganya. Event yang diselenggarakan di Balai Pemuda ini berlangsung dari 19 September hingga 8 November 2026. Keberadaan ARTSUBS menimbulkan pertanyaan di kalangan masyarakat: Apakah Surabaya sedang berkembang menjadi salah satu pusat seni rupa kontemporer nasional yang baru? Selama ini, perhatian terhadap seni rupa kontemporer di Indonesia sering terfokus pada kota-kota seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung, sehingga Surabaya kerap kali dianggap sebagai penonton dalam arena ini.
Surabaya: Dari Penonton Menjadi Pelaku
Dalam sebuah diskusi yang berlangsung sebelum pembukaan resmi ARTSUBS 2026, budayawan dan kurator Nirwan Dewanto menegaskan bahwa seni rupa kontemporer di Surabaya sebenarnya telah berkembang jauh sebelum pameran ini. “Keberadaan ARTSUBS menandakan bahwa Surabaya berpotensi menjadi salah satu arena seni rupa kontemporer nasional yang signifikan,” ujarnya dengan tegas.
Nirwan juga menyoroti bahwa Surabaya sudah lama memiliki institusi seni yang berpengaruh seperti Aksera dan IKIP (kini dikenal sebagai Unesa). Dia juga menyebutkan nama-nama seniman yang telah berkontribusi pada perkembangan seni rupa di kota ini, antara lain Amang Rahman, Rudi Isbandi, Gatot Pujiarto, dan Dadang Rukmana, serta institusi baru seperti Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW).
Sejarah Seni Rupa di Surabaya
Sejarah seni rupa modern di Surabaya dimulai jauh sebelum kemerdekaan Indonesia. Menurut Prof. Dr. Djuli Djatiprambudi, Guru Besar Seni Rupa di Unesa, perkembangan ini sudah ada sejak tahun 1923. Pada saat itu, sebuah perkumpulan seni bernama Raden Saleh dipimpin oleh perupa Soepardi dan Pik Gan menjadi salah satu tonggak awal.
Selanjutnya, pada tahun 1930-an hingga 1940-an, pelukis Belanda Gerald P. Adolfs yang menetap di Surabaya mulai menginspirasi banyak pelukis lokal dengan karya-karya yang merefleksikan kehidupan sosial masyarakat. Keluarga Prabangkara pada tahun 1950-an juga melahirkan perupa seperti Wiwiek Hidajat dan Soenarto Timur, serta mendirikan Piek Gan Art Gallery pada tahun 1955, yang menjadi salah satu galeri seni swasta pertama di Surabaya.
- Perkumpulan seni Raden Saleh (1923)
- Pelukis Gerald P. Adolfs (1930-1940)
- Keluarga Prabangkara (1950)
- Piek Gan Art Gallery (1955)
- Sanggar Angin (1957)
Perkembangan Kolektor Seni di Surabaya
Penting untuk dicatat bahwa Surabaya juga dikenal sebagai gudangnya kolektor seni. Nama-nama seperti Sunaryo Umar Sidik dan Sunaryo Sampoerna telah memainkan peran vital dalam mendukung para seniman melalui koleksi mereka. Kehadiran kolektor ini memberikan insentif bagi perkembangan seni rupa kontemporer di kota ini.
ARTSUBS: Sebuah Inisiatif yang Menggugah
ARTSUBS, yang digelar pertama kali pada tahun 2024, bukan sekadar pameran biasa. Event ini dirancang sebagai platform yang mempertemukan berbagai praktik dan pemikiran seni kontemporer. Dalam setiap edisinya, ARTSUBS mengusung tema yang berbeda namun tetap saling terhubung. Tema yang diangkat pada tahun sebelumnya mencakup “Ways of Dreaming” pada tahun 2024 dan “Material Ways” pada tahun 2025, sementara edisi 2026 mengusung tema “Border (Batas), Treshold (Ambang), dan Beyond (Seberang).”
Melalui ARTSUBS, Surabaya tidak hanya menjadi tempat pameran, tetapi juga sebagai titik temu bagi para seniman dari berbagai daerah di Indonesia. Inisiatif ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem seni kontemporer dan menyebarkan gagasan-gagasan baru tentang seni ke masyarakat luas.
Strategi untuk Menjadi Pusat Seni Rupa Kontemporer Nasional
Menurut Nirwan Dewanto, Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia memiliki potensi yang luar biasa dalam bidang seni rupa. Dia berpendapat bahwa perlu ada pengayaan dalam ruang pameran seni, bukan hanya di kota-kota yang sudah dikenal seperti Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung, tetapi juga di daerah-daerah lain di Jawa Timur, termasuk Malang, Pasuruan, Batu, dan Banyuwangi.
Dengan mengeksplorasi berbagai inisiatif seni dan meningkatkan kerjasama antar kota, Surabaya bisa menjadi pusat seni rupa kontemporer yang tidak hanya diakui di tingkat nasional tetapi juga internasional.
Menggali Potensi Kreatif di Surabaya
Surabaya memiliki banyak potensi kreatif yang masih bisa digali. Beberapa langkah strategis yang dapat diambil untuk mencapai status sebagai pusat seni rupa kontemporer nasional antara lain:
- Meningkatkan kerjasama antara seniman, institusi seni, dan komunitas lokal.
- Menjalin hubungan dengan kolektor dan penggemar seni untuk memperluas jaringan.
- Mengadakan lebih banyak pameran dan event seni yang melibatkan masyarakat.
- Mendukung pendidikan seni di sekolah-sekolah dan universitas.
- Memfasilitasi program residensi bagi seniman lokal dan internasional.
Kesimpulan
Dengan adanya ARTSUBS dan inisiatif-inisiatif lainnya, Surabaya berpotensi untuk tidak hanya menjadi penonton, tapi juga pelaku utama dalam perkembangan seni rupa kontemporer nasional. Melalui kerjasama dan komitmen yang kuat dari seluruh pihak, Surabaya dapat mengukir namanya sebagai pusat seni rupa kontemporer yang berpengaruh di Indonesia.


