depo 10k slot depo 10k

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

pa-wonogiri.go.id

#HeadlineDELI SERDANGHealthkecamatan galangKeluarga Pasien MengamukKesehatanNEWS MEDIApasien berobat mengamukPelayanan Puskesmas GalangVIRAL

Kecewa Pelayanan Puskesmas Galang, Keluarga Pasien Beraksi Protes Keras

Di tengah upaya masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal, insiden mengecewakan terjadi di Puskesmas Galang, Kabupaten Deli Serdang. Kejadian ini memicu reaksi keras dari keluarga pasien yang merasa dirugikan oleh sikap pegawai puskesmas. Video yang merekam momen protes tersebut menjadi viral di media sosial, mengundang perhatian luas dari warganet yang ikut mengomentari pelayanan yang kurang memuaskan ini.

Kecewa di Puskesmas Galang

Rivaldo Barus, seorang warga Kelurahan Galang Kota, adalah salah satu yang terlibat dalam insiden ini. Ia merupakan anak dari Jefry Dani Barus, seorang pasien yang mengalami sesak napas dan berobat ke Puskesmas Galang. Rivaldo mengaku bahwa video yang dibuatnya bertujuan untuk mendorong perbaikan dalam pelayanan puskesmas, agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Ia juga menuntut agar Kepala Puskesmas Galang dipecat atas insiden ini.

Proses Pertolongan yang Mengecewakan

Rivaldo menceritakan bahwa pada malam Rabu, 9 September 2026 sekitar pukul 22:00 WIB, ayahnya dibawa ke Puskesmas karena mengalami sesak napas. Saat itu, Rivaldo sedang berada di luar rumah dan segera bergegas setelah mendengar kabar tentang kondisi ayahnya. Namun, setelah tiba di puskesmas, ia merasa pelayanan yang diterima keluarganya sangat buruk.

“Ayah saya sempat tertidur di ruang UGD. Kami meminta agar ia dirawat inap, tetapi mereka malah menyarankan untuk merujuknya ke rumah sakit lain. Sepertinya mereka tidak ingin repot dan hanya ingin kami segera pergi,” ungkap Rivaldo dengan nada kecewa.

Pengalaman yang Menghentak Emosi

Rivaldo menjelaskan bahwa kemarahan mulai memuncak ketika ayahnya yang tertidur dibangunkan secara tiba-tiba dan AC di ruang UGD dimatikan. Ia merasa perlakuan tersebut sangat tidak pantas, terutama mengingat kondisi kesehatan ayahnya yang masih memerlukan perhatian. “Pintu UGD dibuka lebar-lebar, seolah-olah kami diusir,” tambahnya.

Sementara itu, Jefry Dani Barus mengungkapkan bahwa sesaknya mulai berkurang setelah mendapatkan terapi oksigen dan uap. Namun, saat ia tertidur, ia terkejut ketika dibangunkan oleh salah satu pegawai puskesmas. “Saya pikir ada pasien lain yang lebih membutuhkan, namun ternyata tidak ada,” ujarnya. Emosinya pun meledak saat menyadari bahwa pelayanan yang diterima sangat tidak memadai.

Ketidakpuasan terhadap Pelayanan Kesehatan

Jefry juga mengonfirmasi tindakan pegawai yang mematikan AC di ruang UGD. Ia merasa tindakan tersebut sangat tidak profesional dan menunjukkan kurangnya empati dari pihak puskesmas. “Saya merasa nyaman dengan oksigen yang terpasang. Jika saya harus menginap semalam, itu seharusnya tidak masalah. Namun, mereka seolah ingin mendorong saya agar segera pergi,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Kurangnya Respons dari Puskesmas

Hingga berita ini ditulis, Kepala Puskesmas Galang, dr. Ayi Asti Wardanah, belum memberikan tanggapan terkait insiden ini. Berulang kali upaya untuk menghubunginya melalui pesan WhatsApp tidak mendapatkan respons. Hal ini menambah kesan bahwa pihak puskesmas tidak terbuka terhadap kritik dan tidak siap untuk menerima masukan dari masyarakat.

Pentingnya Pelayanan Kesehatan yang Memadai

Insiden di Puskesmas Galang mengungkapkan betapa pentingnya pelayanan kesehatan yang baik dan responsif. Masyarakat berhak mendapatkan perhatian dan perawatan yang layak, terutama dalam situasi darurat. Pelayanan yang buruk bukan hanya merugikan pasien, tetapi juga mencoreng citra institusi kesehatan di mata publik.

Rekomendasi untuk Perbaikan

Dalam rangka memperbaiki pelayanan puskesmas dan mencegah insiden serupa terjadi di masa depan, beberapa langkah perlu diambil, antara lain:

  • Pelatihan berkala untuk pegawai puskesmas mengenai etika pelayanan kesehatan.
  • Peningkatan fasilitas di ruang UGD untuk kenyamanan pasien.
  • Penerapan sistem pengaduan yang lebih efektif bagi pasien dan keluarga.
  • Monitoring dan evaluasi rutin terhadap pelayanan yang diberikan.
  • Komunikasi yang lebih baik antara pegawai dan pasien untuk memahami kebutuhan pasien.

Puskesmas sebagai lembaga pelayanan kesehatan utama harus berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat. Kasus yang terjadi di Puskesmas Galang seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Harapan terbesar adalah agar ke depan, setiap pasien dapat merasakan pelayanan yang humanis dan berkualitas di setiap fasilitas kesehatan, termasuk Puskesmas Galang.

Related Articles

Back to top button